Adabul Mufrad Bab 8 : Durhaka kepada Orang Tua Tidak Selalu Bentakan (Bahaya Lisan yang Sering Tidak Disadari)
Oleh : Gus Bee Al-Imarah
Ketika mendengar istilah “durhaka kepada orang tua”, kebanyakan orang langsung membayangkan anak yang membentak ibunya, melawan ayahnya, atau meninggalkan orang tuanya dalam kesusahan. Gambaran seperti itu memang benar. Namun, Islam ternyata menjelaskan bahwa durhaka tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasar dan terang-terangan.
Ada bentuk durhaka yang lebih halus, lebih samar, bahkan sering dilakukan tanpa disadari. Bentuk durhaka itu adalah menjadi penyebab orang tua dihina oleh orang lain.
Dalam Kitab Al-Adab Al-Mufrad, Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits yang sangat dalam maknanya. Hadits ini bukan hanya berbicara tentang adab kepada orang tua, tetapi juga tentang bagaimana seorang Muslim menjaga lisannya agar tidak menjadi sebab keburukan bagi kedua orang tuanya.
Di era media sosial hari ini, ketika orang mudah saling menghina, mencaci, dan mempermalukan orang lain di ruang publik, pesan hadits ini menjadi semakin relevan untuk direnungkan.
Hadits tentang Laknat bagi Orang yang Melaknat Orang Tuanya
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه:
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat orang yang mencuri batas-batas tanah, Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya, dan Allah melaknat orang yang melindungi pelaku kerusakan.”
Hadits ini diriwayatkan dalam suasana yang menarik. Ali رضي الله عنه pernah ditanya apakah Nabi ﷺ memberikan ilmu khusus kepada keluarga beliau yang tidak diberikan kepada umat Islam lainnya. Ali menjawab bahwa Rasulullah ﷺ tidak memberikan keistimewaan rahasia tertentu kepada keluarganya, kecuali sebuah lembaran kecil yang berisi beberapa pesan penting.
Salah satu isi lembaran itu adalah ancaman bagi orang yang melaknat kedua orang tuanya.
Makna Laknat dalam Islam
Kata “laknat” bukan sekadar celaan biasa. Dalam istilah syariat, laknat berarti dijauhkan dari rahmat Allah سبحانه وتعالى.
Ini adalah ancaman yang sangat berat. Sebab, ketika seseorang jauh dari rahmat Allah, hidupnya akan kehilangan keberkahan, ketenangan, dan pertolongan.
Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa semua dosa yang disertai ancaman laknat termasuk dosa besar.
Artinya, durhaka kepada orang tua bukan perkara sepele. Islam menempatkannya sebagai pelanggaran serius yang berkaitan langsung dengan hubungan manusia kepada Allah.
Tidak heran jika dalam banyak ayat Al-Qur’an, perintah berbakti kepada orang tua selalu disebut setelah perintah mentauhidkan Allah.
Allah berfirman:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.”
(QS. Al-Isra’: 23)
Ayat ini menunjukkan bahwa birrul walidain atau berbakti kepada orang tua memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam.
Bagaimana Seseorang Bisa Melaknat Orang Tuanya Sendiri?
Pertanyaan yang sering muncul adalah: adakah orang yang benar-benar melaknat ayah dan ibunya sendiri?
Sekilas, hal itu terasa mustahil. Hampir tidak ada orang waras yang secara langsung menghina kedua orang tuanya.
Namun, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa hal tersebut bisa terjadi secara tidak langsung.
Caranya adalah ketika seseorang menghina atau mencaci orang tua orang lain, lalu orang tersebut membalas dengan menghina orang tuanya.
Akhirnya, ia menjadi penyebab kedua orang tuanya dicela.
Dalam ilmu syariat terdapat kaidah penting:
“Orang yang menjadi sebab suatu perbuatan, maka ia seperti pelakunya.”
Karena itulah, seseorang tetap mendapatkan dosa walaupun ia tidak menghina orang tuanya secara langsung.
Pesan ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat hari ini. Banyak pertengkaran terjadi karena lisan yang tidak dijaga. Mulai dari perdebatan kecil, perselisihan keluarga, hingga perang komentar di media sosial, semuanya sering berujung pada saling menghina keluarga.
Tidak sedikit orang yang ketika marah kehilangan kendali terhadap lisannya. Padahal, satu ucapan bisa menyeret kehormatan orang tua sendiri.
Bahaya Lisan yang Sering Diremehkan
Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan. Sebab, sebagian besar dosa manusia berasal dari ucapan yang tidak dijaga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
Hadits ini mengajarkan bahwa diam terkadang lebih mulia daripada berbicara tanpa kendali.
Banyak orang merasa bahwa menghina, menyindir, atau membalas ucapan orang lain adalah hal biasa. Apalagi di era digital, ketika seseorang dapat menulis komentar kasar hanya dalam hitungan detik.
Padahal, dampak ucapan bisa sangat panjang.
Lisan dapat mengangkat derajat seseorang, tetapi juga dapat menjatuhkan kehormatan keluarga dan orang tua.
Seseorang yang mudah mencaci orang lain pada akhirnya sedang membuka pintu agar keluarganya dicaci balik.
Karena itu, menjaga lisan bukan hanya soal sopan santun sosial, tetapi bagian dari ibadah kepada Allah.
Durhaka kepada Orang Tua Disejajarkan dengan Dosa Besar
Hal lain yang menarik dari hadits ini adalah susunan dosa-dosa yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ.
Perhatikan urutannya:
- Menyembelih untuk selain Allah (syirik)
- Merampas batas tanah milik orang lain
- Melaknat kedua orang tua
- Melindungi pelaku kerusakan
Durhaka kepada orang tua diletakkan di tengah-tengah dosa besar lainnya.
Ini menunjukkan bahwa Islam tidak menganggap remeh persoalan adab kepada orang tua.
Bahkan, durhaka tidak hanya berdampak secara pribadi, tetapi juga memiliki dampak sosial dan spiritual.
Orang yang durhaka sering kehilangan keberkahan hidupnya. Hatinya sulit tenang, ibadah terasa berat, dan hubungan sosialnya dipenuhi konflik.
Sebaliknya, orang yang menjaga adab kepada kedua orang tuanya akan mendapatkan pintu keberkahan yang luas.
Mendidik Anak agar Berbakti dengan Cara yang Benar
Di zaman sekarang, banyak orang tua ingin anaknya berbakti. Namun, cara mendidiknya terkadang kurang tepat.
Sebagian orang tua mendidik anak dengan pendekatan rasa takut semata.
Misalnya dengan mengatakan:
- “Kalau melawan ibu, kamu berdosa.”
- “Ibu sudah capek membesarkan kamu.”
- “Kamu harus balas jasa orang tua.”
Kalimat seperti ini memang tidak sepenuhnya salah. Namun, jika terlalu sering digunakan, anak bisa memahami bahwa berbakti hanyalah bentuk balas hutang atau kewajiban sosial.
Padahal, inti birrul walidain dalam Islam adalah ibadah kepada Allah.
Karena itu, pendidikan terbaik adalah menanamkan tauhid terlebih dahulu.
Ajarkan kepada anak bahwa mereka menghormati orang tua karena Allah yang memerintahkan.
Dengan demikian, anak akan tetap berbakti meskipun tidak sedang diawasi. Sebab yang ia cari bukan pujian orang tua, melainkan ridha Allah.
Anak Belajar dari Contoh, Bukan Hanya Nasihat
Hal lain yang sangat penting adalah keteladanan.
Anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar.
Jika seorang anak melihat ayahnya berbicara lembut kepada neneknya, maka itu akan terekam kuat di dalam pikirannya.
Sebaliknya, jika anak terbiasa melihat pertengkaran, bentakan, atau sikap kasar kepada orang tua, maka perilaku itu perlahan dianggap wajar.
Karena itu, pendidikan akhlak paling kuat bukanlah ceramah panjang, tetapi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Berbakti Tidak Menunggu Orang Tua Sempurna
Salah satu kenyataan pahit dalam kehidupan adalah tidak semua orang memiliki hubungan keluarga yang ideal.
Ada orang tua yang keras, pilih kasih, atau kurang memahami anaknya. Bahkan ada yang meninggalkan luka batin mendalam.
Namun, Islam tetap memerintahkan seorang anak untuk menjaga adab kepada kedua orang tuanya.
Berbakti bukan berarti membenarkan semua kesalahan orang tua. Tetapi menjaga ucapan, menghormati kedudukan mereka, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Sebab seorang Muslim berbakti bukan karena orang tuanya sempurna, melainkan karena Allah yang memerintahkannya.
Inilah bentuk ibadah yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah.
Relevansi Hadits Ini di Era Media Sosial
Hari ini, banyak orang begitu mudah menghina orang lain di internet.
Perdebatan politik, agama, keluarga, bahkan urusan kecil dapat berubah menjadi saling menghina. Tidak jarang yang diserang bukan hanya individu, tetapi juga orang tua dan keluarganya.
Padahal Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan bahayanya lebih dari 1400 tahun lalu.
Hadits ini seharusnya menjadi pengingat bagi masyarakat modern untuk lebih berhati-hati dalam berbicara dan menulis.
Sebelum mengetik komentar kasar, seseorang perlu bertanya kepada dirinya sendiri:
“Apakah ucapan ini akan membawa kebaikan atau justru menjadi sebab orang tuaku ikut dihina?”
Jika pertanyaan itu selalu hadir di hati, maka seseorang akan lebih bijak menjaga lisannya.
Penutup
Hadits dalam Kitab Adabul Mufrad ini mengajarkan pelajaran yang sangat mendalam.
Durhaka kepada orang tua tidak selalu berupa bentakan atau perlawanan terang-terangan. Terkadang, durhaka hadir melalui lisan yang tidak dijaga.
Seseorang bisa menjadi penyebab kedua orang tuanya dihina karena ucapan dan sikapnya sendiri.
Karena itu, Islam mengajarkan agar seorang Muslim menjaga lisannya, menjaga emosinya, dan menjaga kehormatan keluarganya.
Berbakti kepada orang tua bukan sekadar tradisi budaya atau balas jasa, melainkan ibadah yang berkaitan langsung dengan ridha Allah سبحانه وتعالى.
Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang lembut lisannya, baik akhlaknya, dan mampu menjaga kehormatan kedua orang tua hingga akhir hayat. Aamiin.
