Adabul Mufrad Bab 1: Surga Itu Dekat, Tetapi Kita Sering Menjauh dari Orang Tua
Oleh : Gus Bee Al-Imarah
Di zaman sekarang, manusia semakin sibuk mengejar banyak hal. Ada yang mengejar karier, jabatan, kekayaan, pengakuan sosial, hingga validasi di media sosial. Setiap hari hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai. Banyak orang rela begadang demi pekerjaan, rela menghabiskan waktu demi bisnis, bahkan rela berpindah kota demi masa depan yang dianggap lebih baik.
Namun di tengah semua kesibukan itu, ada satu hal yang sering terlupakan secara perlahan: adab kepada orang tua.
Ironisnya, banyak orang mampu bersikap lembut kepada rekan kerja, sopan kepada atasan, ramah kepada pelanggan, tetapi justru mudah meninggikan suara kepada ibu dan ayahnya sendiri. Ada yang sabar menghadapi orang lain berjam-jam, tetapi hanya butuh beberapa detik untuk membentak orang tua di rumah.
Padahal dalam Islam, kedudukan orang tua sangatlah tinggi. Bahkan ridha Allah berkaitan erat dengan ridha kedua orang tua. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini bukan sekadar nasihat moral biasa. Ini adalah peringatan besar bahwa hubungan manusia dengan Allah tidak bisa dipisahkan dari hubungan manusia dengan orang tuanya.
Islam Sangat Menjaga Hubungan dengan Orang Tua
Di dalam Al-Qur’an, Allah berkali-kali menyandingkan perintah menyembah-Nya dengan perintah berbuat baik kepada orang tua. Salah satunya dalam firman Allah:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.”
(QS. Al-Isra’: 23)
Ayat ini menunjukkan bahwa setelah tauhid, salah satu amal terbesar adalah berbakti kepada orang tua.
Mengapa Islam memberikan perhatian sebesar itu?
Karena orang tua adalah manusia yang paling berjasa dalam kehidupan anak. Tidak ada manusia lain yang pengorbanannya mampu menyamai pengorbanan seorang ibu dan ayah.
Seorang ibu mengandung dalam keadaan lemah yang terus bertambah. Ia menahan sakit, mual, kelelahan, dan perubahan fisik selama berbulan-bulan. Setelah itu ia harus mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan.
Kemudian perjuangan itu belum selesai. Ia masih harus begadang, merawat, menyusui, membersihkan, dan menjaga anaknya bertahun-tahun tanpa mengenal libur.
Ayah juga demikian. Banyak ayah diam-diam menahan lelah demi keluarganya. Ada yang bekerja sejak pagi hingga malam, ada yang menyimpan tekanan hidup sendiri agar anak-anaknya tetap bisa makan dan sekolah dengan layak.
Sayangnya, ketika anak mulai dewasa, pengorbanan besar itu sering dianggap biasa.
Fenomena Anak yang Mulai Menjauh
Hari ini kita hidup di era digital yang membuat komunikasi semakin mudah, tetapi kedekatan hati justru semakin sulit.
Banyak anak yang setiap hari aktif di media sosial, tetapi jarang berbicara dengan ibunya sendiri. Ada yang hafal jadwal idolanya, tetapi lupa kapan terakhir kali menemani ayahnya mengobrol.
Sebagian orang bahkan lebih cepat membalas pesan teman dibanding pesan orang tuanya.
Inilah salah satu penyakit zaman modern: kehilangan kepekaan terhadap keluarga sendiri.
Padahal kebahagiaan orang tua sering kali sederhana. Mereka tidak selalu meminta harta yang besar. Kadang mereka hanya ingin didengarkan, ditemani, atau ditanya kabarnya dengan tulus.
Ada orang tua yang diam-diam menangis karena merasa anaknya berubah setelah sukses. Ada yang merasa kehilangan anaknya meskipun tinggal serumah, karena hati anak itu sudah terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.
Mengapa Ibu Disebut Tiga Kali?
Suatu hari ada seseorang datang kepada Rasulullah ﷺ lalu bertanya:
“Siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
“Ibumu.”
Orang itu bertanya lagi:
“Kemudian siapa?”
Beliau menjawab:
“Ibumu.”
Ia bertanya lagi:
“Kemudian siapa?”
Beliau kembali menjawab:
“Ibumu.”
Barulah pada pertanyaan keempat Rasulullah ﷺ menjawab:
“Ayahmu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa besar kedudukan seorang ibu dalam Islam.
Para ulama menjelaskan bahwa ibu disebut tiga kali karena ia memiliki tiga perjuangan besar yang tidak dimiliki ayah secara langsung:
- Mengandung
- Melahirkan
- Menyusui dan merawat
Semua proses itu penuh rasa sakit dan pengorbanan.
Karena itu, Islam mengajarkan agar seorang anak tidak mudah melukai hati ibunya, baik dengan ucapan maupun sikap.
Berbakti Tidak Selalu Tentang Uang
Sebagian orang mengira berbakti kepada orang tua hanya sebatas memberi nafkah atau uang bulanan. Padahal hakikat birrul walidain jauh lebih luas daripada itu.
Berbakti bisa berbentuk perhatian kecil yang sering dianggap sepele.
Mendengarkan cerita ibu tanpa memotong pembicaraan adalah bentuk bakti. Menjawab panggilan ayah dengan suara lembut juga bentuk bakti. Menyempatkan waktu pulang, membantu pekerjaan rumah, atau sekadar menemani mereka makan bisa menjadi amal besar di sisi Allah.
Kadang orang tua tidak membutuhkan uang sebanyak yang dibutuhkan adalah kehadiran anaknya.
Di zaman sekarang banyak orang tua yang hidup berkecukupan secara materi, tetapi miskin perhatian dari anak-anaknya sendiri.
Karena itu, jangan sampai kita menjadi anak yang hanya mengirim uang tetapi kehilangan kasih sayang.
Luka Orang Tua yang Tidak Terlihat
Ada kalimat yang sering dianggap biasa, padahal bisa sangat menyakitkan bagi orang tua.
Misalnya:
“Ah, ibu nggak ngerti zaman sekarang.”
“Atau ayah terlalu kolot.”
Ucapan seperti ini mungkin terdengar ringan bagi anak, tetapi bisa meninggalkan luka dalam di hati orang tua.
Mereka mungkin tidak membalas. Mereka mungkin hanya diam. Tetapi hati mereka terluka.
Islam sangat menjaga adab berbicara kepada orang tua. Bahkan Allah melarang seorang anak mengucapkan kata “ah” kepada keduanya.
Allah berfirman:
فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ
“Maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’.”
(QS. Al-Isra’: 23)
Kata “ah” adalah bentuk keluhan paling ringan. Jika itu saja dilarang, maka membentak, menghina, atau mempermalukan orang tua tentu jauh lebih besar dosanya.
Ridha Orang Tua dan Keberkahan Hidup
Banyak orang bertanya mengapa hidup terasa sempit meskipun penghasilannya besar. Ada yang merasa hidupnya tidak tenang, mudah gelisah, atau rezekinya terasa berat.
Tentu tidak semua masalah hidup berkaitan dengan orang tua. Namun para ulama mengingatkan bahwa durhaka kepada orang tua bisa menjadi sebab hilangnya keberkahan hidup.
Sebaliknya, doa orang tua adalah kekuatan besar yang sering diremehkan.
Betapa banyak orang yang hidupnya berubah karena doa ibunya. Betapa banyak orang yang dimudahkan urusannya karena ridha ayahnya.
Dalam kehidupan nyata, kita sering melihat orang yang sederhana tetapi hidupnya penuh ketenangan. Bisa jadi itu karena keberkahan dari doa kedua orang tuanya.
Karena itu, jangan pernah meremehkan restu orang tua.
Jika Hubungan dengan Orang Tua Tidak Baik
Tidak semua orang memiliki hubungan yang mudah dengan orang tuanya. Ada yang tumbuh dalam keluarga penuh luka. Ada yang pernah disakiti, diabaikan, atau diperlakukan keras sejak kecil.
Islam memahami bahwa setiap keluarga memiliki ujian masing-masing.
Namun berbakti kepada orang tua bukan berarti membiarkan diri dizalimi. Islam tetap mengajarkan adab, batasan, dan kebijaksanaan.
Jika hubungan sedang renggang, mulailah perlahan. Tidak harus langsung sempurna. Kadang cukup dengan memulai komunikasi baik, mendoakan mereka, atau menahan diri dari membalas keburukan dengan keburukan.
Karena berbakti bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan tentang siapa yang lebih dahulu memilih kebaikan.
Jangan Menunggu Kehilangan
Salah satu penyesalan terbesar manusia adalah ketika baru menyadari pentingnya orang tua setelah mereka tiada.
Ada orang yang semasa hidup ibunya terlalu sibuk bekerja. Ketika ibunya meninggal, ia baru sadar bahwa rumah tidak pernah terasa sama lagi.
Ada yang dahulu mudah membentak ayahnya. Setelah ayahnya pergi, ia rela melakukan apa saja hanya untuk mendengar suara ayahnya sekali lagi.
Sayangnya, waktu tidak bisa diputar kembali.
Karena itu, selama orang tua masih hidup, manfaatkan kesempatan untuk membahagiakan mereka.
Jangan menunggu sukses besar. Jangan menunggu kaya raya. Jangan menunggu semuanya sempurna.
Kadang hal yang paling mereka inginkan hanyalah perhatian kecil yang tulus dari anaknya.
Penutup
Adabul Mufrad karya Imam Bukhari bukan hanya kitab tentang adab biasa. Kitab ini mengajarkan bahwa akhlak adalah pondasi kehidupan seorang muslim.
Dan salah satu akhlak terbesar adalah berbakti kepada orang tua.
Di tengah dunia yang semakin keras, hubungan anak dan orang tua justru harus semakin dijaga. Jangan sampai kita menjadi manusia yang sukses di mata dunia tetapi gagal menghormati orang tuanya sendiri.
Karena bisa jadi, jalan tercepat menuju keberkahan hidup bukanlah jabatan, bukan kekayaan, dan bukan popularitas.
Tetapi hati ibu yang bahagia.
Dan doa ayah yang tulus di sepertiga malam.
