Adabul Mufrad Bab 3 : Berbakti kepada Ayah, Sosok yang Diam, tetapi Menanggung Segalanya
Oleh : Gus Bee Al-Imarah
Ketika berbicara tentang bakti kepada orang tua, masyarakat sering kali lebih fokus kepada ibu. Hal itu bukan sesuatu yang keliru, sebab Rasulullah ﷺ memang menyebut ibu sebanyak tiga kali ketika ditanya siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan terbaik dari seorang anak.
Namun, sebagian orang kemudian memahami hadits tersebut secara tidak utuh. Tanpa disadari, penghormatan kepada ayah menjadi berkurang. Sosok ayah dianggap biasa saja, bahkan terkadang hanya diposisikan sebagai pencari nafkah semata.
Padahal dalam Islam, ayah memiliki kedudukan yang sangat mulia. Ia adalah pemimpin keluarga, pelindung, penanggung jawab, sekaligus salah satu pintu ridha Allah bagi anak-anaknya.
Ayah mungkin tidak banyak berbicara. Ia juga tidak selalu pandai menunjukkan kasih sayang dengan kata-kata. Akan tetapi, sering kali justru orang yang paling diam itulah yang paling banyak memikirkan masa depan keluarganya.
Karena itu, memahami adab kepada ayah menjadi sesuatu yang sangat penting. Terlebih di zaman sekarang, ketika hubungan antara anak dan ayah semakin renggang akibat kesibukan, perbedaan generasi, dan minimnya komunikasi di dalam keluarga.
Hadits tentang Berbakti kepada Orang Tua
Dalam kitab Adabul Mufrad, Imam Bukhari meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أَبُوكَ
Artinya:
“Seseorang datang kepada Rasulullah ﷺ lalu bertanya, ‘Siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ Beliau menjawab, ‘Ayahmu.’”
Hadits ini menjadi dasar utama dalam pembahasan tentang bakti kepada kedua orang tua.
Mengapa Ibu Disebut Tiga Kali?
Para ulama menjelaskan bahwa penyebutan ibu sebanyak tiga kali bukanlah tanpa alasan. Ada pengorbanan besar yang dilakukan seorang ibu terhadap anaknya.
Pertama, ibu mengandung dalam keadaan lemah. Selama berbulan-bulan ia membawa janin ke mana pun ia pergi, dengan berbagai rasa sakit dan keterbatasan fisik.
Kedua, ibu melahirkan dengan taruhan nyawa. Rasa sakit yang dialami saat persalinan adalah sesuatu yang luar biasa.
Ketiga, ibu menyusui dan merawat anak sejak kecil dengan penuh pengorbanan, termasuk begadang, kelelahan, dan mengorbankan kenyamanan dirinya sendiri.
Karena itulah Rasulullah ﷺ menyebut ibu sebanyak tiga kali sebagai bentuk penegasan terhadap besarnya jasa dan pengorbanan seorang ibu.
Namun, hal ini bukan berarti ayah menjadi tidak penting.
Ayah Tetap Memiliki Kedudukan yang Tinggi
Kesalahan yang sering terjadi hari ini adalah memahami hadits tersebut secara parsial. Sebagian orang menganggap bahwa karena ibu disebut tiga kali, maka ayah menjadi sosok nomor dua yang tidak terlalu penting.
Padahal Rasulullah ﷺ setelah menyebut ibu tiga kali langsung mengatakan:
“Ayahmu.”
Artinya, setelah ibu, ayah adalah orang yang paling berhak mendapatkan penghormatan dan perlakuan baik dari anaknya.
Dalam Islam, ayah memiliki tanggung jawab yang besar terhadap keluarga. Ia bertugas mencari nafkah, melindungi keluarga, memikirkan pendidikan anak, dan memastikan kehidupan keluarganya berjalan dengan baik.
Banyak ayah yang bekerja dalam diam. Mereka tidak selalu pandai mengungkapkan rasa sayang, tetapi memendam banyak kekhawatiran tentang masa depan anak-anaknya.
Sering kali seorang ayah memikirkan:
- biaya sekolah anak,
- kebutuhan rumah tangga,
- kesehatan keluarga,
- masa depan anak-anaknya,
- bahkan kebutuhan kecil yang mungkin tidak pernah disadari oleh keluarganya.
Sayangnya, perjuangan ayah sering tidak terlihat.
Fenomena Anak yang Jauh dari Ayah
Di zaman sekarang, banyak anak yang lebih dekat kepada ibu dibandingkan kepada ayah. Hal itu sebenarnya wajar karena ibu lebih sering berinteraksi secara emosional dengan anak.
Namun, kondisi tersebut terkadang berkembang menjadi hubungan yang renggang dengan ayah.
Banyak anak:
- lebih nyaman curhat kepada ibu,
- lebih terbuka kepada ibu,
- tetapi merasa canggung berbicara dengan ayah.
Akibatnya, hubungan dengan ayah hanya sebatas formalitas. Anak menghormati ayah, tetapi tidak memiliki kedekatan emosional.
Padahal ayah juga membutuhkan penghargaan, perhatian, dan penghormatan dari anak-anaknya.
Ada banyak ayah yang sebenarnya ingin dekat dengan anaknya, tetapi tidak tahu bagaimana cara memulainya. Generasi terdahulu dibesarkan dalam pola pendidikan yang keras dan kaku, sehingga mereka tidak terbiasa mengungkapkan kasih sayang secara verbal.
Karena itu, anak tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa ayah tidak peduli. Bisa jadi kasih sayangnya ditunjukkan melalui tanggung jawab dan kerja kerasnya setiap hari.
Berbakti Bukan Sekadar Balas Budi
Salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa berbakti kepada orang tua bukan sekadar balas budi.
Dalam Islam, birrul walidain adalah perintah Allah.
Artinya, seorang anak tetap wajib menghormati orang tuanya meskipun mungkin tidak mendapatkan pola pengasuhan yang sempurna.
Tentu bukan berarti Islam membenarkan sikap zalim orang tua. Akan tetapi, kewajiban beradab dan menjaga sikap tetap harus dilakukan selama tidak diperintah melakukan maksiat.
Karena itu, pola pikir seperti:
- “Saya hormat kalau ayah baik,”
- “Saya patuh kalau ayah perhatian,”
harus diluruskan.
Seorang muslim menghormati orang tua karena itu adalah bentuk ketaatan kepada Allah.
Berbakti Tidak Berarti Menjadikan Orang Tua Seperti Tuhan
Di sisi lain, Islam juga mengajarkan keseimbangan.
Berbakti kepada orang tua bukan berarti menuhankan mereka atau takut secara berlebihan.
Islam tidak mengajarkan anak menjadi pribadi yang kehilangan pendapat, kehilangan hak berbicara, atau tunduk dalam kemaksiatan.
Yang diajarkan Islam adalah:
- berbicara dengan santun,
- tidak membentak,
- tidak menyakiti hati,
- tetap menghargai meskipun berbeda pendapat.
Seorang anak tetap boleh menyampaikan pandangan, selama dilakukan dengan cara yang baik dan penuh adab.
Bentuk Berbakti kepada Ayah dalam Kehidupan Sehari-hari
Berbakti kepada ayah sebenarnya dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana.
1. Mendengarkan ketika ayah berbicara
Mendengarkan adalah bentuk penghormatan. Jangan sampai ketika ayah berbicara, anak justru sibuk bermain ponsel atau tidak memperhatikan.
2. Menjaga nada bicara
Banyak orang mampu bersikap lembut kepada orang lain, tetapi justru keras kepada orang tuanya sendiri. Padahal menjaga nada bicara adalah bagian dari adab.
3. Menghargai keputusan ayah
Meskipun tidak selalu setuju, seorang anak tetap harus menjaga penghormatan terhadap keputusan dan pendapat ayahnya.
4. Mendoakan ayah
Doa anak yang saleh adalah amal yang terus mengalir. Mendoakan ayah, baik ketika masih hidup maupun sudah wafat, adalah bentuk bakti yang sangat besar nilainya.
5. Membantu tanpa diminta
Kepekaan terhadap kebutuhan orang tua merupakan tanda kedewasaan dan adab seorang anak.
Cara Mengajarkan Anak Berbakti kepada Ayah
Pendidikan adab harus dimulai sejak dini.
1. Orang tua harus menjadi teladan
Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika seorang ibu menghormati ayah, maka anak akan belajar menghormati ayahnya.
Sebaliknya, jika di rumah sering terjadi penghinaan dan pertengkaran, anak akan kehilangan teladan tentang adab.
2. Ayah perlu membangun kedekatan
Ayah jangan hanya hadir sebagai sosok yang ditakuti. Anak juga membutuhkan ayah sebagai tempat bercerita dan merasa aman.
3. Biasakan adab sejak kecil
Ajarkan anak:
- mengucapkan salam,
- mencium tangan,
- meminta izin,
- berbicara sopan kepada orang tua.
Kebiasaan kecil akan membentuk karakter besar.
4. Tanamkan nilai agama
Jelaskan kepada anak bahwa menghormati orang tua adalah bagian dari ibadah dan bentuk ketaatan kepada Allah.
5. Hindari narasi balas budi
Kalimat seperti:
- “Ayah capek cari uang buat kamu,”
- “Ibu sudah berkorban demi kamu,”
memang benar, tetapi jangan sampai membuat anak merasa bahwa berbakti hanyalah soal membayar hutang jasa.
Lebih baik tanamkan bahwa menghormati orang tua adalah perintah agama.
Ayah yang Diam, tetapi Doanya Panjang
Ada satu kenyataan yang sering terlambat disadari oleh banyak orang.
Kita mudah mengatakan:
“Aku sayang ibu.”
Namun, jarang sekali ada anak yang berkata:
“Terima kasih, Ayah.”
Padahal mungkin ayahlah yang paling banyak memikirkan kehidupan anaknya.
Ayah mungkin jarang menangis di depan keluarga. Ia juga jarang mengeluh tentang bebannya. Namun, dalam diamnya, ada doa-doa panjang yang dipanjatkan untuk anak-anaknya.
Karena itu, selama ayah masih hidup, jangan sia-siakan kesempatan untuk berbakti.
Perbaiki cara berbicara. Perbaiki sikap. Luangkan waktu untuk mendengarkan dan menemani.
Sebab suatu hari nanti, ketika ayah sudah tiada, yang tersisa hanyalah kenangan dan penyesalan apabila dahulu belum sempat membahagiakannya.
Penutup
Islam adalah agama yang sangat menekankan penghormatan kepada kedua orang tua. Ibu memang memiliki kedudukan yang sangat mulia, tetapi ayah tetap memiliki hak besar untuk dihormati dan dimuliakan.
Ayah adalah sosok yang sering bekerja dalam diam, menanggung beban tanpa banyak bicara, dan memikirkan masa depan keluarganya tanpa meminta penghargaan.
Karena itu, berbakti kepada ayah bukan sekadar tradisi atau balas budi, melainkan bentuk ketaatan kepada Allah.
Semoga Allah menjadikan kita anak-anak yang mampu menghormati, menyayangi, dan membahagiakan kedua orang tua kita, terutama ayah yang sering kali jasanya tidak terlihat, tetapi pengorbanannya begitu besar dalam kehidupan kita.
